PALEMBANG, TITIKNEWS.MY.ID — Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan diperkuat dengan tambahan dua unit helikopter water bombing.
Tambahan armada tersebut membuat jumlah helikopter yang digunakan untuk mendukung operasi penanganan karhutla di Sumatera Selatan menjadi 10 unit.
Penguatan operasi udara dilakukan di tengah upaya pemerintah dan tim gabungan menangani titik api serta mencegah kebakaran meluas di sejumlah wilayah Sumsel.
Penanganan Karhutla Diperkuat
Karhutla masih menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian di Sumatera Selatan.
Sebelumnya, BNPB melaporkan penanganan karhutla dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara. Operasi udara digunakan terutama untuk menjangkau lokasi kebakaran yang sulit ditangani melalui jalur darat.
Data koordinasi penanganan karhutla per 15 September 2026 mencatat adanya 1.737 hotspot di Sumatera Selatan dan 20 titik api dengan estimasi luas sekitar 404,22 hektare. Dari luas tersebut, sekitar 319,97 hektare telah ditangani, sementara sekitar 84,25 hektare masih dalam penanganan pada saat laporan tersebut dibuat.
Helikopter Digunakan untuk Water Bombing
Water bombing merupakan metode pemadaman menggunakan helikopter untuk menjatuhkan air dalam jumlah besar langsung ke area yang terbakar.
Metode ini dapat digunakan pada lokasi yang sulit dijangkau oleh kendaraan pemadam atau personel melalui jalur darat.
Operasi udara juga dapat membantu mempercepat penanganan titik api tertentu, terutama di wilayah gambut atau kawasan dengan akses terbatas.
Sejumlah Wilayah Menjadi Prioritas
Penanganan karhutla di Sumatera Selatan mencakup sejumlah wilayah yang memiliki tingkat kerawanan berbeda.
Dalam evaluasi BNPB sebelumnya, beberapa daerah yang menjadi prioritas antara lain Ogan Komering Ilir, Muara Enim, Banyuasin, Penukal Abab Lematang Ilir, serta Kota Palembang.
Penentuan wilayah prioritas dilakukan berdasarkan hasil pemantauan titik panas, titik api, kejadian kebakaran dan potensi penyebaran.
Operasi Darat Tetap Berjalan
Penambahan helikopter tidak berarti penanganan hanya dilakukan melalui udara.
Tim darat tetap menjadi bagian penting dalam operasi pemadaman. Personel gabungan dikerahkan untuk menangani titik api, melakukan patroli serta mencegah munculnya kembali kebakaran di lokasi yang telah dipadamkan.
Dalam laporan BNPB pertengahan September, lebih dari 12 ribu personel gabungan dilibatkan dalam penanganan karhutla Sumatera Selatan.
Cuaca Menjadi Salah Satu Tantangan
Kondisi cuaca menjadi faktor penting dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.
Hujan dapat membantu mengurangi intensitas kebakaran, tetapi distribusinya tidak selalu merata di seluruh wilayah Sumatera Selatan.
Pada saat yang sama, kondisi lahan yang kering dapat membuat api lebih mudah menyebar.
Karena itu, pemantauan titik panas dan deteksi dini tetap diperlukan meskipun sejumlah wilayah mulai mendapatkan hujan.
Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Pemerintah juga mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Pembakaran yang tidak terkendali dapat berkembang menjadi karhutla, terutama ketika kondisi lahan dan cuaca mendukung penyebaran api.
Masyarakat yang melihat asap atau titik api juga diharapkan segera melaporkannya kepada pihak berwenang agar dapat ditangani lebih cepat.
Dampak Asap Perlu Diwaspadai
Selain mengancam hutan dan lahan, karhutla dapat menimbulkan asap yang berdampak terhadap kualitas udara.
Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika konsentrasi asap meningkat.
Karena itu, perkembangan kualitas udara dan informasi resmi mengenai kondisi karhutla perlu terus dipantau masyarakat.
Fakta Singkat
Wilayah: Sumatera Selatan
Masalah: Kebakaran hutan dan lahan
Tambahan armada: 2 helikopter water bombing
Total armada udara: 10 helikopter
Penanganan: Operasi darat dan udara
Wilayah prioritas: OKI, Muara Enim, Banyuasin, PALI dan Palembang
Instansi terkait: BNPB, BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni dan unsur lainnya
.jpg)
Posting Komentar untuk "Sumsel Dapat Tambahan 2 Helikopter Water Bombing, Total Armada Udara Jadi 10 Unit"